Saat Masyarakat Baduy Desak Gubernur Banten Perkuat Upaya Pelestarian Lingkungan
Terik matahari menyengat di halaman Gedung Negara Provinsi Banten, tak sedikit pun mengendurkan langkah masyarakat Baduy. Seperti tahun-tahun sebelumnya, mereka datang dengan khidmat, menunaikan tradisi yang telah diwariskan turun-temurun.
Sebanyak 1.553 warga Baduy dari Kabupaten Lebak mengikuti tradisi Seba Baduy tahun 2026. Mereka menempuh perjalanan sekitar 160 kilometer untuk bersilaturahmi dengan Gubernur Banten, yang mereka sebut sebagai “bapak gede”, di Gedung Negara pada Sabtu (25/04/2026).
Barisan itu tampak kontras namun serasi. Masyarakat Baduy Luar mengenakan pakaian hitam, sementara Baduy Dalam tampil dengan balutan putih. Mereka berjalan beriringan, langkah demi langkah, tanpa alas kaki. Menyatu dengan tanah yang selama ini mereka jaga. Ikat kepala bercorak khas melengkapi penampilan sederhana yang sarat makna.
Baca juga Mahasiswa Soroti Kemiskinan di Provinsi Banten
Di tangan mereka, tergenggam hasil bumi seperti pisang dan beragam buah lainnya. Bukan sekadar bawaan, melainkan simbol rasa syukur sekaligus persembahan yang akan diserahkan kepada bapak gede.
Seba kali ini merupakan Seba Leutik. Tak terlihat perkakas dapur yang biasanya turut dibawa dalam Seba Gede.
Kepala Desa Kanekes Jaro Oom mengatakan, masyarakat Baduy menitipkan pesan penting kepada pemerintah daerah, baik gubernur maupun bupati, mengenai kerusakan alam yang mulai dirasakan.
Oom menyampaikan, dalam petuah lembaga adat atau puun, terdapat kekhawatiran terhadap kondisi sungai dan gunung yang mengalami kerusakan. Hal tersebut menjadi keluh kesah masyarakat yang berharap ada langkah konkret dari pemerintah untuk menjaga kelestarian lingkungan.
“Pesan dari kami, ada lingkungan yang harus ditertibkan. Dalam pepatah adat juga disampaikan bahwa sungai dan gunung rusak, itu menjadi tanda yang harus diperhatikan. Ini yang kami sampaikan kepada pemerintah,” ujarnya.
Jaro Oom menuturkan, masyarakat Baduy berharap pembangunan di Banten tetap berjalan, namun tidak mengabaikan kesejahteraan masyarakat adat dan kelestarian alam.
“Kami ingin Banten maju dan masyarakatnya sejahtera, tapi alam juga harus tetap dijaga,” katanya.
Oom mengungkapkan, tradisi Seba Baduy dilakukan setelah masa panen dan rangkaian ritual adat, termasuk puasa selama tiga bulan dan Ngalaksa. Tradisi ini akan terus dijaga dan dilaksanakan secara turun-temurun.
“Seba itu harus kami laksanakan sampai kapan pun,” pungkasnya. (ukt)






