Topi Anyaman Pandan Pandeglang : Pernah Tembus Pasar Ekspor, Kini Butuh Pasar Baru
Tumpukan topi anyaman pandan teronggok di lantai teras rumah yang juga menjadi tempat memproduksi produk yang sempat menembus ekspor itu. Namun, masa keemasan itu segera akan padam.
Adi Pandat, Perajin topi anyaman daun pandan di Kecamatan Banjar dan Kecamatan Mekarjaya, Kabupaten Pandeglang, bercerita kegundahannya akan nasib usaha yang telah 30 tahun memproduksi topi anyaman dan menembus pasar ekspor itu.
Kata Adi, selama ini, hasil anyaman perajin diserap untuk kebutuhan ekspor melalui perusahaan mitra, PT Dados Sekana.
Namun sejak kerja sama tersebut berhenti, pada Februari 2026, sekitar 2.000 buah topi menumpuk tak terjual.
Adi menuturkan, selama kurang lebih 30 tahun, produk topi diserap oleh perusahaan tersebut. Penghentian penyerapan membuat para perajin mengurangi produksi karena pasar lokal dinilai belum mampu menyerap dalam jumlah besar seperti sebelumnya.
Baca juga Gula Semut Asal Lebak Tembus Pasar Internasional
Sepengetahuan Adi, penghentian penyerapan oleh PT Dados Sekana lantaran pemilik perusahaan telah lansia dan tidak memiliki penerus.
“Sekarang produksi hanya untuk skala lokal saja, tidak sebesar dulu. Kalau dulu serapannya bisa ribuan, sekarang hanya ratusan,” katanya kepada banteninside, Jumat (27/02/2026).
Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran di kalangan perajin karena topi anyaman pandan selama ini menjadi sumber penghasilan utama. Terdapat sekitar 157 perajin anyaman pandan yang menggantungkan hidupnya pada produk tersebut. Perajin anyaman pandan juga didominasi oleh warga lanjut usia (lansia).
“Kekhawatiran terbesar tentu kehilangan mata pencaharian. Selama ini topi menjadi produk unggulan karena sudah masuk pasar ekspor, meskipun melalui perusahaan perantara,” ujarnya.
Menurut Adi, para perajin berharap pemerintah dapat membantu mencarikan pasar baru, baik melalui penggunaan produk oleh instansi pemerintah maupun membuka akses kerja sama dengan pembeli baru.
“Kami berharap pemerintah bisa membantu penyerapan produk, misalnya digunakan oleh instansi atau membantu mencarikan pembeli baru,” katanya.
Adi mengungkapkan, para perajin tidak hanya memproduksi topi. Tetapi juga memproduksi kerajinan lain seperti tas (kaneron), sajadah, tikar, sandal, dompet, tentengan dan beragam jenis lainnya. Namun, yang selama ini diekspor melalui PT Dados Sekana adalah topi. (***)
Penulis : Ukat Saukatudin, Jurnalis banteninside.co.id






