Pesta Media AJI Jakarta: Merancang Jalan Jurnalisme Menjaga Lingkungan
Pembukaan Pesta Media AJI Jakarta 2026 di Teater Wahyu Sihombing, Taman Ismail Marzuki, Sabtu (11/04/2026), menjadi pertemuan hangat orang-orang yang percaya bahwa cerita, yang ditulis, difoto, dan disuarakan, masih punya daya untuk mengubah arah masa depan.
Tema yang diusung, “Facing for Future, Collaboration for Our Nature”, tidak terdengar muluk di ruangan itu. Justru terasa dekat. Dari sudut-sudut selasar hingga ruang diskusi, percakapan tentang krisis iklim mengalir santai namun serius. Seolah semua yang hadir paham, ini bukan lagi isu jauh di luar sana, ini tentang hari ini, dan tentang kita.
Ketua AJI Jakarta Irsyan Hasyim, menyampaikan hal itu dengan nada yang tenang, tapi tegas. Bagi Irsyan, kembalinya Pesta Media setelah 14 tahun bukan sekadar nostalgia, melainkan ajakan untuk bergerak bersama.
“Ini momentum kolaborasi untuk menghadapi ancaman krisis iklim,” ujarnya.
Kalimat itu tidak berhenti sebagai sambutan. Ia hidup dalam bentuk kegiatan yang beragam. Di satu sisi, ada diskusi tentang nasib media dan tantangan jurnalis perempuan. Di sisi lain, ada obrolan tentang satwa liar, hutan, hingga ekspansi industri ekstraktif seperti batubara dan nikel. Semua bertemu dalam satu ruang: ruang keprihatinan sekaligus harapan.
Baca juga Jurnalis Banten Demo Tolak Pembungkaman Pers
Yang menarik, Pesta Media ini tidak melulu soal diskusi berat. Ada lokakarya personal branding, jurnalisme solusi, hingga zine bertema hutan yang terasa lebih cair dan kreatif.
Di layar pemutaran film, kisah masyarakat adat di Papua hadir—tenang, tapi menggugah—mengisahkan resiliensi di tengah tekanan pembangunan.
Di antara booth-booth yang berjejer—sekitar 30 stand dari berbagai lembaga, media, dan universitas—pengunjung bisa berhenti sejenak, berbincang, atau sekadar menyerap energi kolaborasi yang terasa hidup. Bahkan, ada booth medis yang menawarkan pemeriksaan kesehatan gratis, seolah mengingatkan bahwa merawat diri juga bagian dari menjaga keberlanjutan.
Lebih dari sekadar acara dua hari, Pesta Media ini seperti napas baru. Irsyan berharap, ini bukan berhenti di sini—melainkan menjadi agenda tahunan, dan bagian dari gerakan yang lebih besar menuju Festival Media AJI Indonesia di Batam nanti.
Namun di balik semua itu, ada satu benang merah yang terasa kuat: bahwa jurnalisme tidak lagi cukup hanya melaporkan. Ia dituntut untuk terlibat, memahami, dan ikut menjaga.
Dan mungkin, di tengah riuh percakapan dan langkah-langkah kecil di Teater Wahyu Sihombing hari itu, harapan itu sedang ditulis—pelan-pelan, bersama. (***)





