Opini

Demokrasi yang Kehilangan Makna

Sering kita membayangkan tirani sebagai sesuatu yang jauh dari diri kita, penguasa otoriter, kekuasaan tanpa batas, atau negara yang membungkam warganya secara terang-terangan. Tapi kenyataan dalam kehidupan kita saat ini, praktik tidak selalu sejelas itu. Tirani hari ini bisa tumbuh dalam bentuk yang lebih slow, lebih tertata, bahkan di dalam sistem yang kita sebut demokrasi.

Buku The Origin of Tyranny yang ditulis Percy Neville Ure seperti ingin mengingatkan bahwa tirani tidak selalu datang dari luar sistem. Ia justru sering lahir dari dalam, ketika sistem itu sendiri gagal menjaga keseimbangan. Ketika publik lelah pada elite lama, ketika ketidakpuasan menumpuk, dan ketika harapan digantungkan pada satu figur, maka kekuasaan yang awalnya sah bisa berubah menjadi sesuatu yang sulit dikendalikan.

Situasi semacam ini terasa tidak asing.

Di negeri  ini, demokrasi berjalan. Pemilu rutin digelar, kepala daerah dipilih langsung, partai politik aktif, meski jika mendekat Pemilu. Secara prosedural, semuanya tampak baik-baik saja. Tapi di balik itu, ada pertanyaan yang jarang benar-benar dijawab, setelah kekuasaan diperoleh, apakah masih ada ruang yang cukup untuk mengoreksinya?

Di titik inilah kita mulai melihat tanda-tanda yang tidak selalu nyaman.

Soal Birokrasi, misalnya. secara regulatif,, mutasi dan promosi jabatan adalah hal biasa dalam tata kelola pemerintahan. Tapi ketika keputusan-keputusan itu lebih sering dibaca sebagai soal kedekatan daripada kapasitas, kepercayaan perlahan terkikis. Aparatur tidak lagi berdiri sebagai pelayan publik yang netral, melainkan berada dalam bayang-bayang preferensi kekuasaan. Pelan-pelan, yang bekerja bukan lagi sistem, tapi hubungan.

Hal serupa terlihat dalam relasi politik antara eksekutif-legislatif. Fungsi pengawasan yang seharusnya dijalankan oleh DPRD melemah. Meski tak hilang sama sekali, kritik semakin jarang terdengar. Bukan karena tidak ada yang perlu dikritisi, melainkan karena ruang untuk itu semakin sempit atau terasa tidak nyaman untuk dimasuki. Kontrol melemah meembuat kekuasaan kehilangan cermin untuk melihat dirinya sendiri.

Lalu ada soal personalisasi kebijakan publik. Program bantuan, proyek pembangunan, hingga kebijakan populis sering kali hadir sebagai jawaban atas kebutuhan masyarakat. Itu hal yang wajar. Tapi ketika pelaksanaannya mulai terasa selektif, atau terlalu lekat dengan citra dan kepentingan politik, batas antara pelayanan dan konsolidasi kekuasaan menjadi abu-abu. Publik menerima manfaatnya, tetapi sekaligus terseret dalam pola ketergantungan yang tidak selalu disadari.

Nah, yang paling sulit dikenali justru cara penguasa mengelola kritik. Tidak selalu dengan pembungkaman, tapi dengan cara yang lebih halus, memberi label, menggeser makna, atau menempatkan kritik sebagai sesuatu yang mengganggu stabilitas. Dalam situasi seperti ini, ruang demokrasi tetap terlihat terbuka, tetapi arah percakapannya mulai dikendalikan.

Semua ini terjadi tanpa harus melanggar aturan secara terang-terangan.

Dan mungkin itu yang membuatnya terasa wajar.

Sejarah politik Banten sendiri bukan tanpa catatan soal kuatnya jaringan kekuasaan dan patronase. Tapi hari ini, tantangannya berbeda. Praktik-praktik lama tidak lagi tampil secara kasar, melainkan beradaptasi dengan prosedur demokrasi. Ia tidak menghilangkan sistem, tapi memanfaatkan celah di dalamnya.

Akibatnya, kita tidak melihat tirani sebagai sesuatu yang datang tiba-tiba. Ia tumbuh pelan-pelan, menyusup dalam kebiasaan, dan akhirnya terasa normal.

Peringatan Ure dalam The Origin of Thyranny menjadi relevan bahwa tirani tidak selalu dipaksakan. Ia bisa lahir dari harapan, dari keinginan publik akan pemimpin yang kuat, cepat, dan mampu menyelesaikan masalah. Tapi ketika harapan itu tidak diimbangi dengan sistem yang kuat untuk mengawasi, maka kekuasaan cenderung bergerak tanpa rem.

Kemudian muncul pertanyaan sederhana, tapi tidak mudah dijawab,
apakah kekuasaan hari ini masih bisa dikoreksi?

Kalau jawabannya mulai terasa ragu, mungkin yang sedang kita hadapi bukan krisis demokrasi yang terlihat jelas, melainkan sesuatu yang lebih sunyi, demokrasi yang masih berjalan, tetapi perlahan kehilangan maknanya. (***)

Eka Satialaksmana

Penulis adalah Pembina Jaringan Rakyat untuk Demokrasi dan Pemilu

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button