Banten

Perjuangan Orang Tua Menanti Anaknya UTBK 2026 di Untirta

BANTEN – Matahari belum sepenuhnya terbit saat Reni tiba di Kampus Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) Sindangsari, Serang. Ia datang pukul 05.45 WIB bersama putri pertamanya, Najwa, untuk mengikuti Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) dalam Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) sebagai syarat masuk perguruan tinggi negeri.

Itu dilakukan lantaran peserta wajib datang satu jam sebelum UTBK dimulai, yakni pukul 07.00 WIB. Ini merupakan kesempatan kedua bagi Najwa, setelah sebelumnya ia belum berhasil lolos ke kampus impiannya melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP). Kala itu, Najwa memilih Institut Pertanian Bogor dan Universitas Indonesia sebagai tujuan studinya.

“Waktu pengumuman anaknya (Najwa) enggak mau buka hasilnya sama temen-temen, dia maunya sama saya. Terus pas di rumah buka bareng hasilnya merah (gagal lolos) yaudah saya nangis awalnya dia ketawa ketawa terus liat saya nangis eh ikut nangis,” kata Reni saat ditemui di sela-sela menunggu sang anak di Kampus Sindangsari Untirta, Rabu (29/04/2026).

Reni mengatakan, dalam UTBK kali ini, Najwa mengubah pilihannya. Ia kini mendaftar ke program studi Pendidikan Bahasa Inggris serta D3 Manajemen di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Sebagai orang tua, ia hanya bisa memberi dukungan agar putrinya dapat lolos ke jurusan yang dipilih.

Baca juga Bahasa Kekuasaan dan Hasrat Melanggengkan Takhta

Ia mengaku tidak pernah membatasi pilihan anaknya dalam menentukan jurusan kuliah. Meski sebelumnya Najwa bersekolah di SMAN 3 Kota Serang dengan jurusan IPA, kini ketika sang anak memutuskan mengambil lintas jurusan ia tetap mendukung.

“Yaudah gimana anaknya kan, saya enggak ngekang juga kalau pengen sih di luar kota tapi semoga rezekinya di sini jadi saya bisa mantau juga,” katanya.

Reni bersedia menunggu berjam-jam sebagai bentuk dukungan moril bagi putrinya. Semangat itu, kata dia, muncul karena melihat langsung perjuangan Najwa belajar menjelang UTBK. Ia pun berujar, mengandung Najwa selama sembilan bulan saja ia jalani dengan rela, apalagi hanya menunggu beberapa jam demi masa depan anaknya.

“Saya bangun jam tiga pagi, semangat nyiapin dia makan dan apa-apanya. Udah biasa juga dulu pas dia (Najwa) lahiran juga ditunggu tunggu sekarang buat kesuksesan dia jadi enggak cape. Semoga perjuangannya terbalas dan sukses meski ini awal dan gimana hasilnya nanti itu tergantung Allah,” ungkapnya.

Di tempat berbeda, orang tua peserta lain, Nana Sumarna berangkat dari Kecamatan Cikupa, Kabupaten Tangerang sekitar pukul 05.30 pagi berboncengan motor dengan sang anak agar tidak terlambat mengikuti UTBK.

Sang anak katanya bermimpi masuk PTN di Semarang. Meski mengaku lupa kampus dan program studi yang jadi mimpi sang anak, Nana menilai kehadirannya mengantar dan menunggu menjadi bentuk kasih sayang bagi anaknya.

Nana, yang sehari-hari bekerja sebagai sopir lepas, mengaku menghentikan seluruh pekerjaannya hari itu demi anaknya. Meski hubungan sang anak lebih dekat dengan ibunya, ia tetap ingin hadir dalam setiap momen penting anaknya.

“Di-off dulu semuanya hari ini, merelakan demi anak. Dia pengennya ke Semarang,” katanya.

Sebagai orang tua, Nana mengatakan ia hanya bisa memberi dukungan terbaik bagi anaknya. Jika kelak tidak lolos UTBK, ia berharap sang anak tetap bersemangat melanjutkan kuliah di tempat lain.

Ia menegaskan dukungan lainnya untuk mendukug mimpi anaknya adalah dengan menyiapakan seluruh kebutuhan biaya untuk kuliah hingga tuntas nanti.

“Harapan orang tua kan pengen anaknya sukses. Berjam-jam nunggu buat anak mah rela lah,” tukasnya. (ukt)

Ukat Saukatudin

Bergabung di banteninside.co.id sejak tahun 2022

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button